Selasa, 01 Februari 2011

Tokoh Indo yang Antikolonial

Danudirdja Setiabuddhi, 1879-1950
Tokoh Indo yang Antikolonial

Judul buku: Het leven van EFE Douwes Dekker
Penulis: Frans Glissenaar
Penerbit: Hilversum Verloren, 1999
Tebal: 246 halaman

***
Di Jakarta Selatan ada kecamatan dan kelurahan Setiabudi, suatu tempat yang jalan-jalannya juga bernama Setiabudi. Kawasan ini dibangun di abad yang lalu pada tahun 1950-an, dan namanya dibuat sebagai peringatan dan penghormatan terhadap tokoh nasional Setiabuddhi yang meninggal pada malam menjelang 8 Agustus 1950. Jenazahnya dimakamkan dengan kehormatan militer di taman makam pahlawan Bandung bersama para pejuang kemerdekaan lainnya.
Tidak banyak yang diketahui oleh umum tentang sosok dan sejarah perjuangan Setiabuddhi. Mereka yang masih ingat pelajaran sejarah di sekolah, mungkin tahu bahwa ia adalah satu dari tiga serangkai, bersama Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat, yang mengadakan tindakan-tindakan antikolonial pada tahun 1910-an sehingga mengakibatkan mereka diasingkan ke negeri Belanda. Barangkali masih ada juga yang ingat perannya sebagai pendiri Ksatrian Instituut di Bandung, lembaga persekolahan bercorak kebangsaan yang selalu diawasi intelijen Belanda, seperti halnya Perguruan Taman Siswa yang didirikan oleh Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantoro).
Biografi yang ditulis Frans Glissenaar ini, Het leven van EFE Douwes Dekker, Hilversum Verloren, 1999, memberi gambaran serba lengkap mengenai Setiabuddhi yang bernama asli EFE Douwes Dekker atau Ernest François Eugène Douwes Dekker. EFE Douwes Dekker lahir di Pasuruan pada tanggal 8 Oktober 1879, sebagai anak ketiga dan putra kedua dari Auguste Henri Edouard Douwes Dekker dan Louisa Margaretha Neumann. Ibunya adalah putri seorang Jerman, Neumann, dan wanita Jawa. Jadi Ernest adalah seorang Indo. Oleh sebab itu, Ernest atau Setiabuddhi merasa dirinya solider dengan nasib kaum Indo yang dalam masyarakat kolonial Hindia-Belanda dianggap lebih rendah dari orang Belanda totok.
Nama Douwes Dekker yang didapat dari pihak ayah, sangat terkenal baik di negeri Belanda maupun di tanah jajahan Hindia-Belanda, karena tulisan-tulisan Eduard Douwes Dekker (1820-1887), sastrawan Belanda yang di Indonesia lebih terkenal dengan nom de plume (nama sebagai penulis) Multatuli. Eduard alias Multatuli adalah adik dari Jan Douwes Dekker, kakek Setiabuddhi dan ayah Auguste. Seperti diketahui, Multatuli adalah penulis Max Havelaar, buku yang terbit pada tahun 1860, yang diakui sebagai karya sastra Belanda yang sangat penting karena memelopori gaya tulisan baru. Di Indonesia karya ini sangat dihargai karena untuk pertama kalinya inilah karya yang dengan jelas dan lantang membeberkan nasib buruk rakyat yang dijajah. Di salah satu bagiannya memuat drama tentang Saijah dan Adinda yang sangat menyentuh hati pembaca, sehingga sering kali dikutip dan menjadi topik untuk dipentaskan di panggung.
Peran Eduard Douwes Dekker (Multatuli) di abad ke-19 dan Ernest Douwes Dekker di abad ke-20, yang sering dipanggil DD oleh kawan-kawannya, dalam menelanjangi keburukan politik kolonial Belanda sudah barang tentu menimbulkan rasa amarah kalangan konservatif yang hendak mempertahankan kekuasaan Belanda di kepulauan Indonesia. Avonturir, oportunis, penipu internasional, bahkan juga schoelje (bangsat) adalah kata-kata berang yang dilontarkan oleh musuh-musuh Ernest. Di kalangan keluarganya sendiri juga ada ungkapan bahwa door alle DD’s loopt een streep! (semua DD orang aneh), dan “aneh” dalam hal ini harus diartikan “kurang waras”. Semua kritik di samping pengalaman dan jasa-jasa Ernest Douwes Dekker semasa hidupnya diulas dan dibahas dalam biografi ini.
Dalam buku ini, riwayat Ernest Douwes Dekker dibagi dalam sepuluh bab dengan urutan kronologis menurut babak-babak perjalanan hidupnya. Diawali dengan uraian tentang lingkungan keluarga yang meliputi tahun 1879-1900 pada bab 1, delapan bab berikutnya menceritakan perjuangan hidup sampai akhir hayatnya, yang kemudian ditutup dengan bab 9 sebagai epilog.
Dalam bab 2 diceritakan keikutsertaan Ernest Douwes Dekker dalam Perang Boer di Afrika Selatan tahun 1900-1902. Seperti diketahui, pada tahun 1899 Inggris berperang melawan bangsa Boer di Afrika Selatan. Bangsa Boer adalah keturunan orang Belanda yang menetap di Afrika Selatan sejak pertengahan abad ke-17. Pada tahun 1814, Inggris yang sudah menduduki Afrika Selatan sejak tahun 1795, dikukuhkan kekuasaannya di kawasan ini. Orang Boer (boer dalam bahasa Belanda adalah “petani”) yang tidak senang hidup di bawah perintah Inggris berpindah ke sebelah utara, menyeberangi sungai-sungai Vaal dan Oranje tempat mereka mendirikan dua republik, Transvaal dan Oranje-Vrijstaat (The Great Trek, 1835-1837). Tetapi pada akhir abad ke-19 ketegangan antara kedua belah pihak memuncak menjadi perang terbuka. Banyak faktor yang menyebabkannya, termasuk kenyataan bahwa di kawasan ini ditemukan emas dan intan. Perang ekspansi Inggris ini mendapat kecaman dunia internasional pada waktu itu. Banyak sukarelawan pergi ke Afrika Selatan untuk membantu pihak Boer, di antaranya Ernest Douwes Dekker bersama kakaknya Julius dan adiknya Hugo.
Tindakan Ernest Douwes Dekker pergi berperang di Afrika Selatan menunjukkan bahwa ketika ia masih muda, sekitar usia 20 tahun lebih, ia masih merasa dirinya sebagai orang Belanda yang melawan ekspansi Inggris yang hendak menguasai tanah yang diduduki orang Boer yang keturunan Belanda. Tetapi, pengalaman selama perjalanan melewati India, Aden, Afrika Timur, dan keadaan di Afrika Selatan, mengubah sikapnya 180 derajat. Pengalaman itu membuka matanya terhadap ketimpangan-ketimpangan sosial dan ekonomi, terlebih terhadap nasib rakyat yang dijajah. Bukan hanya di wilayah jajahan Inggris, tetapi di wilayah yang dikuasai Boer, yang enggan menghapus sistem perbudakan walaupun didesak Inggris, perlakuan diskriminasi terhadap penduduk asli terjadi pula. Ernest Douwes Dekker menarik paralel keadaan itu dengan keadaan di Jawa. Apabila kedudukan orang Indo berada di bawah Belanda totok, maka lebih buruk lagi nasib bumiputra.
Sekembali di tanah kelahirannya, Ernest Douwes Dekker mulai mengkritik kebijakan politik kolonial melalui tulisan-tulisannya di surat kabar dan majalah. Cara Bagaimana Belanda Paling Cepat Bisa Kehilangan Tanah Jajahannya?, begitulah judul dari serangkaian karangannya di Nieuwe Arnhemsche Courant yang terbit tahun 1908. Ernest Douwes Dekker mengingatkan Belanda bahwa lebih dari satu abad sebelumnya, Benjamin Franklin pernah menulis karangan yang berjudul Seni untuk Menghilangkan Sebuah Jajahan. Inggris telah menerapkan seni ini dan akibatnya Amerika Serikat membebaskan diri. Apakah Belanda akan lebih bijaksana karena sudah diperingatkan jauh sebelumnya?
Di antara hal-hal yang diperingatkan oleh Ernest supaya diperhatikan pemerintah kolonial adalah penderitaan rakyat jelata, ketimpangan sosial, diskriminasi rasial, penyalahgunaan kekuasaan seperti di perkebunan Indramayu-West dan Kandanghaur, serta nasib buruk golongan Indo. Dengan pena yang tajam dan gaya penulisan yang berani, Ernest Douwes Dekker mendesak pemerintah untuk mengubah garis kebijaksanaan yang ditempuh. Politik “Etis” yang dilaksanakan Belanda sejak awal abad ke-20 dihantamnya. Seperti diketahui, garis “politik etis” itu tidak lagi memperlakukan Hindia-Belanda sebagai daerah eksploitasi, sapi perahan untuk kemakmuran negeri Belanda, tetapi dimaksudkan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat pribumi. Fokus politik ini adalah edukasi- irigasi-transmigrasi-desentralisasi. Namun, Ernest Douwes Dekker mengemukakan, bukan begitu caranya untuk menjaga agar Belanda tak kehilangan tanah jajahannya. Menurutnya, yang diperlukan adalah pemerintahan sendiri, self-rule, untuk penduduk Indië sendiri, karena merekalah yang lebih tahu dan mengerti kepentingannya sendiri. Di sini untuk pertama kalinya disuarakan gagasan untuk memerintah diri sendiri. Berbeda dengan perlawanan- perlawanan terhadap Belanda sebelumnya yang ditujukan kepada restauration, mengembalikan Hindia Belanda kepada kekuasaan tradisional, sekarang mulai dikumandangkan keinginan untuk mandiri, mengurus dan menentukan nasib sendiri.
Tulisan Ernest Douwes Dekker semakin radikal dan dalam dekade kedua abad ke-20 masyarakat tanah jajahan diajak untuk bergerak-Kameraden, stookt de vuren! (Kawan-kawan, nyalakanlah api!). Gagasan-gagasan demikian yang muncul dalam pers Hindia-Belanda mendapat perhatian bukan hanya di kalangan kaum Indo, tetapi juga di kalangan pribumi yang sudah mendapat pendidikan Barat dan menguasai bahasa Belanda, di antaranya Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Bersama kedua tokoh ini Ernest Douwes Dekker mengadakan aksi antikolonial sehingga mereka sering dianggap sebagai tiga serangkai.
Tuduhan bahwa ia tidak patriotik dijawabnya dengan mengatakan bahwa bukan Belanda melainkan Indie-lah tanah airnya, karena di situlah tempat ia dilahirkan. Meskipun demikian, ia tidak anti- Belanda, karena banyak di antara kawan- kawannya adalah orang Belanda. Perlawanannya dilakukan terhadap pemerintah kolonial. Kepada golongan Indo diimbaunya untuk mendukung perjuangan melawan politik kolonial yang menempatkan mereka di bawah orang totok.
Waktu itu kaum Indo merasa dalam kedudukan terdesak. Kalau dulu sebagai keturunan campuran Eropa dengan pribumi, dengan berkebudayaan dan berbahasa Belanda walaupun dalam bentuk yang khas, mereka biasa digunakan sebagai pegawai menengah pada pemerintah dan perusahaan Eropa, sejak abad ke-19 arus migrasi bangsa totok dari Eropa mulai menggeser mereka ke tempat yang lebih rendah. Dengan meluasnya pendidikan Belanda di kalangan pribumi tingkat atas, maka kesempatan kerja bagi mereka semakin berkurang lagi.
Kesempatan untuk memperoleh pendidikan modern pada waktu itu sangat terbatas dan hanya sampai tingkat sekolah menengah. Ini pun hanya terbatas di kota-kota besar di pulau Jawa, seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya. Hanya golongan yang mampu dapat mengirim anaknya ke Eropa untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Di antara 50.000 orang Indo pada permulaan abad ke-20 ada se- kelompok besar yang tergolong masyarakat sangat miskin.
Sementara itu, gerakan kebangsaan yang beridentitas Indonesia semakin tumbuh di kalangan penduduk. Dalam hubungan ini tiga serangkai memelopori gerakan politik dengan resmi membentuk Indische Partij atau Partai Hindia pada bulan November 1911. Sebelumnya sudah ada Budi Utomo yang bergerak di bidang kebudayaan, juga ada Sarekat Dagang Islam di kalangan para pedagang Muslim, sedangkan Indische Partij secara lantang menyuarakan aspirasi politik para anggotanya, yakni untuk menuntut hak asasi penduduk Hindia-Belanda untuk mengatur dan memerintah diri sendiri.
Penduduk Indo dianjurkan oleh Ernest Douwes Dekker untuk mengidentifikasi dirinya sebagai bangsa Indonesia. Mereka memang keturunan Belanda, tetapi tindakan Belanda terhadap mereka seperti tindakan seorang “ibu tiri”. Mereka juga keturunan Indonesia, hanya nama mereka saja berbau Belanda karena diberi ayahnya. Banyak sekali anak yang tidak diakui ayahnya sehingga mereka ini mengikuti status ibunya. Jadi, menurut Ernest, sebenarnya kedua kelompok ini sama-sama Indo, oleh sebab itu sebaiknya kaum Indo berorientasi ke tanah kelahirannya dan mengidentifikasi dirinya bersama penduduk pribumi daripada berkiblat ke Belanda yang memperlakukan mereka sebagai anak tiri. Akan tetapi, ternyata tarikan ke Belanda lebih kuat. Di pertengahan tahun 1919 didirikan partai Indo tandingan yang bernama Indo-Europees Verbond (Perserikatan Indo-Eropa), disingkat IEV. Ketuanya adalah Karel Zaalberg yang dulu bekerja sama dengan Douwes Dekker. Tujuan partai ini adalah memperjuangkan nasib kaum Indo tetapi orientasinya ke Belanda.
Sikap radikal Ernest Douwes Dekker tentu diamat-amati pemerintah kolonial. Seperti telah dikemukakan di atas, akhirnya tiga serangkai diasingkan ke negeri Belanda pada tahun 1913. Dalam buku ini diberikan data baru dan diuraikan dengan detail tentang apa yang sudah diketahui secara garis besar, yaitu tentang kegiatan mereka di pengasingan dan setelah kembali ke Tanah Air. Soewardi Soerjaningrat mendirikan perguruan Taman Siswa, dan kemudian dikenal sebagai Ki Hajar Dewantoro. Dr Tjipto Mangoenkoesoemo bergiat dalam gerakan antikolonial sehingga akhirnya diasingkan lagi, kali ini ke Banda. Ernest Douwes Dekker juga konsekuen berjuang terus dan mendirikan perguruan Ksatrian Instituut di Bandung. Sementara itu, pengawasan intel Belanda juga terus dijalankan terhadapnya sampai ia dipenjarakan.
Yang kurang diketahui oleh umum adalah pengalaman Ernest di masa Perang Dunia II. Segera setelah negeri Belanda diduduki Jerman pada tahun 1940, Ernest Douwes Dekker ditahan bersama orang- orang Jerman, orang Indo keturunan Jerman, dan orang Belanda yang dianggap “berbahaya” bagi pemerintah. Ketika perang meluas ke wilayah Asia Tenggara sesudah Jepang menyerang Pearl Harbor di Hawaii, kelompok tahanan yang berjumlah 146 orang ini diangkut ke Suriname dan ditahan di daerah pedalaman dalam keadaan yang sangat sengsara. Para tahanan yang mendekam di kamp “Joden Savanne” yang terletak di tengah- tengah hutan rimba harus mengalami siksaan secara fisik maupun mental. Meskipun fisik menjadi sangat lemah, Ernest Douwes Dekker dan para tahanan mampu bertahan hidup dan dibebaskan pada tahun 1946.
Mereka diangkut ke Amsterdam dan dilepaskan begitu saja di pelabuhan tanpa bantuan apa-apa. Upaya Ernest untuk dikembalikan ke Tanah Air tidak dikabulkan. Meskipun demikian, ia berhasil menyelundupkan diri di kapal yang tiba di Tanjung Priok pada tanggal 2 Januari 1947. Bersama orang-orang Indonesia yang kembali dari Eropa, Ernest naik kereta api yang langsung berangkat ke Yogyakarta, ibu kota republik. Pada masa ini ia mengubah namanya menjadi Setiabuddhi. Untuk mempertahankan nama panggilan Douwes Dekker, ia memilih nama Danurdirdja sebagai nama depan, seperti yang tertera sekarang di batu nisannya.
Frans Glissenaar, penulis buku setebal 246 halaman, adalah seorang wartawan freelance. Ia berhasil mengumpulkan bahan dari berbagai sumber dan menyajikannya dalam suatu biografi yang sangat menarik. Dengan menelusuri bahan tulisan dari berbagai penjuru di Nederland, Jerman, dan Indonesia, yang dilengkapi dengan wawancara, Glissenaar menuangkan hasil penelitiannya sedemikian rupa sehingga keluar sosok Ernest Douwes Dekker sebagai manusia penuh kehebatan namun dengan tidak menyembunyikan segi-segi negatif dengan segala keterbatasannya. Ernest Douwes Dekker berkemauan keras untuk mencapai cita-citanya, tetapi juga seorang keras kepala. Dalam buku ini dapat dilihat bahwa ia mengejar tujuannya dengan cara-cara yang bagaimanapun, asal saja maksudnya tercapai.
Sebenarnya, Ernest Douwes Dekker bisa menjalani hidup yang lebih enak seperti halnya orang Indo yang kedudukannya setingkat dengan dia di masyarakat kolonial pada waktu itu. Garis keturunannya lebih dekat kepada Belanda. Ia lulusan Gymnasium Willem III, sekolah tertinggi pada waktu itu yang hanya terbatas kepada anak-anak elite Belanda, Indo, dan priyayi pribumi tertinggi. Jadi, ia bisa memilih karier di birokrasi pemerintahan atau perusahaan swasta. Tetapi, ia berpegang teguh pada prinsipnya, yakni berjuang untuk perbaikan nasib rakyat dan mengubah struktur sosial yang penuh ketimpangan, ketidakadilan, dan diskriminasi. Perjuangan ini dilakukan lewat pena yang tajam sebagai jurnalis. Risikonya, ia harus sering berhadapan dengan polisi kolonial sampai harus masuk penjara, dan akhirnya di masa Perang Dunia II diangkut bersama orang-orang Eropa yang dianggap “berbahaya” bagi Pemerintah Belanda ke pedalaman Suriname tempat mereka disiksa sehingga Ernest keluar sebagai seorang yang memiliki fisik sangat rapuh.
Glissenaar menokohkan Ernest Douwes Dekker sebagai seorang Belanda yang berpengaruh besar kepada pergerakan kebangsaan Indonesia. Tulisannya yang mengkritik keadaan kolonial, selalu dibaca oleh para pemuda yang bisa berbahasa Belanda. Rumahnya sering dikunjungi oleh siswa-siswa Stovia, antara lain oleh Soetomo dan tokoh-tokoh lain yang mendirikan Budi Utomo. Mereka suka memanfaatkan perpustakaan pribadi Ernest karena perpustakaan Stovia tidak menyediakan buku-buku yang relevan bagi jiwa perjuangan mereka. Juga Soekarno yang masih muda remaja sangat tergugah oleh karya-karya Ernest di surat kabar sehingga sudah pada tempatnya jika di kemudian hari Soekarno mengaku tokoh Setiabuddhi sebagai gurunya.
Sebagai salah seorang dari tiga serangkai perintis kemerdekaan, Ernest Douwes Dekker bersama dua kawannya saling mempengaruhi dan saling isi- mengisi pikiran dan pendapat. Tentu di pengasingan di Banda, pikiran-pikiran ini menjadi bahan diskusi antara Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan teman-teman sepembuangan seperti Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir.
Telah dikemukakan bahwa Ernest Douwes Dekker menanggalkan status kebelandaannya dan memilih nama Danudirdja Setiabuddhi. Dengan nama ini ia sekarang dikenal dan menduduki tempat yang terhormat dalam sejarah Indonesia. Jalan Lembang di Bandung tempat kediamannya sampai meninggal dunia, sekarang menjadi Jalan Setiabudi. Di Bandung pula ada Jalan Ksatrian yang mengingatkan kita kepada lembaga pendidikan Ksatrian Instituut yang didirikannya, yang telah berhasil mendidik kader-kader pemimpin perjuangan. Setiabuddhi patut dikenang dan diingat oleh generasi-generasi berikut, oleh sebab itu hendaknya buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia supaya pemahaman kita tentang masa pergerakan nasional, khususnya tentang tokoh Setiabuddhi, akan lebih jelas dan lebih bermakna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar